Kurikulum Progresif dan Perjuangan di Medan Pertempuran
Kurikulum di Diniyyah Puteri dirancang dengan keseimbangan antara ilmu agama, keterampilan hidup, dan tanggung jawab sosial, bertujuan mencetak muslimah yang berilmu dan berakhlak mulia.
Perjuangan Rahmah tidak hanya di bidang akademik. Pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945, ia turut berjuang secara langsung sebagai Bundo Kanduang dalam barisan Sabilillah dan Hizbullah. Pesantren yang didirikannya juga berfungsi sebagai basis logistik dan dukungan bagi para pejuang kemerdekaan.
Sikap nasionalismenya sangat kuat, ditunjukkan dengan penolakannya terhadap bantuan dana dari pemerintah Hindia Belanda demi menjaga kemandirian dan kemurnian perjuangan lembaganya.
Pengakuan Internasional dan Warisan Abadi
Kontribusi Rahmah El Yunusiyyah mendapatkan pengakuan internasional. Pada tahun 1955, Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Dr. Syekh Abdurrahman Taj, berkunjung dan sangat terkesan dengan sistem pendidikan Diniyyah Puteri. Rahmah kemudian diundang ke Mesir dan menjadi ulama perempuan pertama yang dianugerahi gelar kehormatan Syaikhah oleh Universitas Al-Azhar. Kiprahnya bahkan menginspirasi pendirian fakultas khusus perempuan (Kulliyatul Banat) di universitas ternama tersebut.
Rahmah El Yunusiyyah wafat pada Februari 1969 di Padang Panjang. Warisannya tetap hidup melalui Perguruan Diniyyah Puteri yang kini berkembang menjadi lembaga pendidikan komprehensif dari PAUD hingga perguruan tinggi. Rumahnya diabadikan menjadi Museum Rahmah El Yunusiyyah.
Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional merupakan bentuk penghormatan tertinggi negara atas jasanya membangun fondasi pendidikan Islam yang inklusif, mandiri, dan visioner, khususnya dalam pemberdayaan perempuan Indonesia.
Artikel Terkait
Link Video Bocil Block Blast Viral: Hoaks atau Bahaya Nyata? Ini Fakta Mengejutkannya!
MUI Bongkar Masalah KUHP Baru: Nikah Siri & Poligami Bisa Dipidana, Benarkah Langgar Hukum Islam?
The Simpsons Ramal Kematian Trump 2026? Ternyata Ini Fakta Mengejutkan di Balik Video Viral!
Prabowo Tantang Swasembada Pangan 1 Tahun: Negara Kaya, Rakyat Miskin Itu Tidak Masuk Akal!