Bukan hanya itu, Fahri juga menilai tokoh-tokoh di balik Koalisi Perubahan juga samar. "Sekarang kalau disebut perubahan, tidak berani juga bilang perubahan," ungkap Fahri.
"Apalagi ada fakta Pak Jokowi ternyata populer dan approval rate-nya tinggi, akhirnya kemudian nggak berani juga (bilang perubahan). Jadi apa ini semua?" imbuhnya.
Namun Fahri juga mengaitkan masalah ini dengan perkara presidential threshold, di mana koalisi dibentuk dengan kalkulasi soal mendapatkan tiket maju di Pilpres 2024.
"Karena koalisi tidak dibentuk untuk menyusun pemerintah dan koalisi itu hanya karena menghitung jumlah tiket bukan gagasannya, terjadilah kebingungan tentang merekrut orang," terang Fahri.
"Orang sudah melihat betapa mesranya Anies dengan AHY, tiba-tiba dalam hitungan hari berubah, langsung masuk pelaminan," imbuhnya merujuk pada Anies yang kini menggandeng Cak Imin.
Sumber: suara
Artikel Terkait
Jokowi Dikritik Pedas: Wacana 2 Periode Prabowo-Gibran Dinilai Terlalu Ambisius!
Gibran di Pilpres 2029: Hanya PSI yang Setia? Ini Peta Dinginnya Dukungan Partai
Jokowi vs Politisi Lain: Siapa Ahli Pencitraan Terhebat Menurut Mantan Harimau Jokowi?
Prabowo Dua Periode 2029: Rahasia Kepercayaan Diri Gerindra & Masa Depan Koalisi Tanpa Gibran