Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Runtuh Usai Serangan Dahsyat di Lebanon
Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang baru berumur hitungan jam terancam runtuh. Pemicunya adalah serangan udara masif Israel di Lebanon yang menewaskan ratusan orang, diikuti ancaman Iran untuk kembali memblokade Selat Hormuz.
Hari Paling Mematikan: Israel Lancarkan 100 Serangan ke Lebanon
Ketegangan memuncak ketika militer Israel melancarkan lebih dari 100 serangan udara dalam waktu 10 menit ke wilayah Lebanon, termasuk ibu kota Beirut. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 luka-luka, menjadikannya hari paling mematikan sejak konflik pecah pada Februari 2026. Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, mengecam serangan ini sebagai "pembantaian yang tidak masuk akal".
Penyebab Keretakan: Perbedaan Fatal Interpretasi Kesepakatan
Inti keretakan gencatan senjata adalah perbedaan penafsiran yang tajam mengenai cakupan wilayah:
- Iran & Pakistan: Menegaskan kesepakatan mencakup penghentian permusuhan di semua front, termasuk Lebanon. Iran menyatakan AS harus memilih antara gencatan senjata atau perang proksi via Israel.
- AS & Israel: Bersikeras bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan. AS menyebut konflik di Lebanon sebagai "bentrokan terpisah" dan mendukung hak Israel untuk terus menyerang Hezbollah.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan operasi militer akan berlanjut. Sementara Iran mengancam akan kembali ke pertahanan skala penuh jika serangan tidak dihentikan.
Artikel Terkait
Ultimatum Trump Gagal Total: Iran Balas Serang dengan Rudal & 10 Poit Perdamaian di Selat Hormuz 2026
Mojtaba Khamenei Kritis: Laporan Rahasia AS-Israel Ungkap Siapa Pengendali Sebenarnya Iran?
Trump Terima 10 Tuntutan Iran: Gencatan Senjata atau Kemenangan Diplomatik Teheran?
Trump Setuju Gencatan Senjata 2 Minggu dengan Iran: Syarat Rahasia & Peran Penting Pakistan Terungkap