Proyek 35.000 Mobil India Rp 9,7 T Dikritik: Proyek Boros atau Solusi Logistik Desa?

- Jumat, 20 Februari 2026 | 22:25 WIB
Proyek 35.000 Mobil India Rp 9,7 T Dikritik: Proyek Boros atau Solusi Logistik Desa?

Kritik lainnya adalah mengenai pengabaian terhadap kemampuan industri otomotif lokal. Jhon menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki industri yang mumpuni untuk memenuhi kebutuhan kendaraan niaga sederhana.

"Padahal, Indonesia punya industri otomotif yang sudah mampu jika hanya untuk sekadar merakit mobil pick-up saja," tegasnya.

Penjelasan Pemerintah dan Pemasok: Untuk Konektivitas dan Logistik Desa

Sebelumnya, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, telah membenarkan pengadaan ini. Kendaraan yang sebagian telah tiba ini akan difungsikan sebagai penopang operasional koperasi untuk memperkuat rantai pasok pangan hingga tingkat desa.

Agrinas beralasan pemilihan produsen India didasarkan pada kemampuan pasok jumlah besar, harga kompetitif, dan kesiapan waktu yang cepat sesuai program nasional. Pemerintah menargetkan pembentukan sekitar 80.000 koperasi, dengan 30.000 unit ditargetkan rampung hingga pertengahan 2026.

Dukungan dari Perusahaan India: Perkuat Fondasi Logistik

Dari sisi pemasok, CEO Divisi Otomotif Mahindra dan Mahindra, Nalinikanth Gollagunta, menyebut kehadiran kendaraan mereka akan memperkuat fondasi logistik yang menghubungkan petani ke pasar. Pesanan 35.000 unit ini bahkan melampaui total ekspor Mahindra pada tahun fiskal 2025.

Sementara itu, Tata Motors juga mengamankan pesanan 70.000 kendaraan komersial. Mereka menilai proyek ini sejalan dengan agenda pembangunan Indonesia untuk memperkuat konektivitas pedesaan dan ketahanan ekonomi desa.

Proyek mobil untuk Koperasi Merah Putih ini terus menjadi perdebatan, antara kebutuhan mempercepat pembangunan desa dan kritik atas efektivitas serta dampak fiskal dari pengadaan barang impor dalam skala masif.

Halaman:

Komentar